Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Awalnya, Saya Ingin Jadi Arsitek

Ilustrasi desain denah, hasil karya arsitek

 
Dua puluh lima tahun silam saya pernah bercita-cita menjadi arsitek. Padahal, waktu itu, sebagai siswa SMP di kampung, saya tak paham benar apa pekerjaan arsitek. Yang saya tahu, arsitek adalah tukang gambar bangunan. Itu saja.

Mungkin, masa itu, sebagai remaja yang hobi menggambar dan baca komik, imajinasi telah mengantarkan pikiran saya kepada penilaian bahwa bekerja sebagai arsitek itu seru. Kita menggambar bangunan di atas kertas, lalu para tukang bekerja mewujudkannya di atas tanah. Itu makanya saya berniat masuk STM di kota setamat SMP.

Tapi, setelah tamat SMP saya akhirnya malah masuk SMA di kampung saya. Padahal sebelumnya saya telah mendaftar ke  STM di kota.

Ingin Jadi Ahli Botani

Menggenggam tumbuhan liar. (Foto: Fajri Hidayat)

Di bulan-bulan pertama di SMA, cita-cita saya segera berganti. Saya lupa dengan rencana menjadi tukang gambar bangunan. Saya kemudian malah tertarik menjadi ahli botani.

 Mungkin, kala itu, pengalaman masuk keluar hutan dekat rumah, disandingkan dengan teori-teori ilmu Biologi di kelas, dipengaruhi pula oleh film-film fiksi ilmiah Hollywood ditambah cerita dalam novel terjemahan, telah mengantarkan imajinasi saya kepada penilaian bahwa bekerja sebagai Ahli Botani itu lebih menyenangkan. Itu makanya saya berniat masuk ITB setamat SMA.

Ingin Jadi Penulis

Tapi, belum lagi tamat SMA, baru saja naik kelas dua, cita-cita saya sudah berganti. Saya ingin menjadi penulis, terutama cerita fiksi.

Falah, gadis kecil yang gemar menulis. (Foto: Fajri Hidayat)
Falah, gadis kecil yang gemar menulis. (Foto: Fajri Hidayat)

Mungkin, waktu itu, akibat keseringan baca cerpen dan novel, dibarengi guru Bahasa Indonesia pandai mengajar, mengantarkan imajinasi saya kepada penilaian bahwa bekerja sebagai penulis fiksi itu keren. Kita bisa membawa pembaca larut ke ruang-ruang lain di dunia-dunia yang juga berbeda dibanding kenyataan. Apalagi sebuah cerita fiksi saya waktu itu pernah dimuat di koran mingguan, senang benar hati saya.

Ingin Jadi Profesor

Tapi, di kelas 3, karena nilai saya waktu itu agak tinggi (maklum sering dapat rangking di kelas), saya "bisa" masuk jurusan IPA. Bergelut tiap hari dengan ilmu pasti, saya mulai tertarik mendalami pelajaran kimia. Sudah dapat ditebak, cita-cita saya berubah lagi. Saya ingin jadi profesor. Tapi bukan profesor ahli kimia. Entah kenapa, saya tidak ingat.

Lalu, setamat SMA saya pergi ke kota.

Di kota, tanpa terlalu banyak timbang menimbang, saya pada akhirnya kuliah di jurusan Diploma Tiga (D3) Akuntansi di universitas negeri. Padahal saya sama sekali tidak tertarik dengan ilmu yang pada pikiran saya hanya mengurus pembukuan catatan-catatan keuangan tersebut.

Saya tetap berkeras hati, mendongkol, bahwa saya adalah "anak IPA", kok malah belajar IPS. Itulah sebabnya saya tidak begitu serius kuliah, di samping waktu saya juga harus dibagi untuk bekerja. Saya bertekad, tahun depannya akan ulang tes lagi di jurusan IPA. Pokoknya IPA! Entah itu Teknik, Biologi, atau Kimia. Saya tetap mempertahankan cita-cita jadi profesor IPA, yang banyak waktunya bekerja di laboratorium yang ada mikroskopnya.

Tertarik dengan Akuntansi

Adalah kemudian seorang dosen tua yang mengajar mata kuliah Dasar-Dasar Akuntansi (sekarang dikenal dengan Pengantar Akuntansi). Saya tiba-tiba mulai tertarik dengan materi yang disampaikannya. Sepertinya dia ahli betul dengan ilmu yang diampunya. Mungkin dari caranya mengajar yang begitu fokus, tanpa buku, dan banyak bercerita tentang pengalamannya. Padahal dosen itu terkenal killer, dan suka marah. Marahnya tidak membentak, tapi menyindir dengan kata-kata yang pedas.

Lambat laun, saya jadi terinspirasi mendalami ilmu itu. Saya pelajari benar dasar-dasar akuntansi yang rupanya berdasar pada ilmu matematika. Berarti induk ilmu dasarnya adalah IPA juga, pikir saya waktu itu.

Pada satu titik, saya menguasai dasar ilmu itu dan makin suka mengerjakan tugas-tugas yang berkaitan dengan hitung-hitungan di atas kertas tersebut, walaupun tidak diberi tugas oleh dosen. Saya cari-cari saja soal-soal sendiri dan memecahkannya sendiri. Ada kenikmatan selama saya bekerja menyelesaikan soal-soal yang beragam tapi formulanya serupa itu.

Tapi, anehnya, saya tidak bisa menggerakkan otak saya untuk berpikir agar saya bercita-cita jadi akuntan. Saya bahkan tidak tertarik belajar ekonomi. Ternyata saya hanya suka menemukan misteri angka-angka di ujung jawaban soal-soal akuntansi. Itu saja yang membuat saya betah.

Belakangan, baru saya sadari, saya tak lagi punya cita-cita yang spesifik, setelah cita-cita saya yang sebelumnya mengendap ke dalam lumpur masa.

Ingin Jadi Orang yang Bermanfaat

 

Saya kemudian "hanya" bercita-cita jadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Mungkin waktu itu, setelah perenungan yang panjang, saya teringat arti nama saya yang disampaikan seorang guru mengaji saya di MDA dulu. Dia mengatakan bahwa nama saya artinya fajar yang mendapat hidayah atau fajar yang memberi manfaat atau petunjuk.

 Kata ibu saya, saya dilahirkan di waktu matahari belum bersinar, tepat ketika azan subuh terdengar. Itulah alasannya saya diberi nama "Fajri" yang bermakna fajar. Dan sampai hari ini, ketika subuh menjelang, saya sering ingat ibu saya. Seorang perempuan cerdas, disiplin, penyayang, rajin beribadah, dan suka menolong. Ibu adalah manusia baik yang pernah berjuang hidup mati melahirkan saya. Tak kan terbalas jasanya meski langit dan bumi dikuasakan kepada saya. Semoga Tuhan selalu menyayangi ibu saya.

Bila teringat ibu, maka saya teringat pesan-pesannya. Yang paling terpatri di kepala saya, ibu berpesan agar saya rajin bersedekah, tiap hari. Maka memaknai pesan ini, pikiran saya mengatur sebuah formula sederhana dalam hidup, yaitu bermanfaat bagi orang lain. Bukankah tujuan utama dari sedekah adalah bermanfaat bagi orang lain?

Mungkin formula itu pula yang selalu mengarahkan otak saya agar cita-cita saya harus bermuara kepada sedekah. Bagaimanapun saya tertarik merajut keinginan menjadi ini dan itu, tapi ujung-ujungnya ke sana juga, yaitu seberapa bermanfaatnya saya bagi orang lain.

Dalam buku-buku bacaan, terjemahan kitab kuning, pengajian, ceramah agama, dan tontonan-tontonan yang pernah saya saksikan, menjadi bermanfaat bagi orang lain ternyata termasuk ajaran nabi. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Satu kaji itu sangat melekat dan mempengaruhi jalan hidup saya. Termasuk dalam merancang cita-cita.

 

Sempat Drop Out, Lalu Kuliah Lagi

Pensil dan penghapus di atas kertas. (Foto: Fajri Hidayat)
Begitulah, setelah hampir lima tahun kuliah tanpa arah, saya akhirnya memutuskan berhenti saja. Saya bertukar pikiran. Banyak urusan lain tentang kehidupan yang harus saya perjuangkan dibanding melanjutkan kuliah tapi tak tahu tujuannya ke mana. Padahal kala itu tugas akhir saya sudah disetujui pembimbing.

Tentu bukan hanya karena tidak lagi punya cita-cita yang jadi penyebab saya hengkang (drop out) dari universitas besar itu. Banyak "Faktor X" lain. Nantilah, kalau ada usia saya panjang, saya ceritakan pula seri faktor-faktor itu.

Tiga tahun setelah berhenti kuliah di Diploma Tiga Akuntansi telah banyak hal yang saya lalui dan kerjakan, baik itu kebaikan maupun keburukan. Mulai dari hidup di jalanan, keluyuran, jadi pengamen terminal, jadi tukang fotokopi, sampai terdaftar sebagai honorer di sebuah sekolah.

Lalu, suatu hari saya ditawari paman saya untuk mengambil beasiswa Diploma Empat (D4) Akuntansi Pemerintahan yang dibuka oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Saya juga membaca pengumumannya di sebuah koran. Kuliahnya di politeknik, yang waktu itu masih di bawah universitas besar tempat saya kuliah sebelumnya (sekarang kampus itu telah berdiri sendiri).

Karena memang suka belajar dan sebetulnya masih sangat ingin kuliah, maka saya bersedia ikut ujian beasiswa itu. Alhamdulillah, saya lulus, dan kembalilah saya jadi mahasiswa. Kali ini tak memikirkan biaya (yang sebelumnya berat) lagi, karena semua ditanggung pemerintah. Dari uang kuliah sampai uang saku.

Karena sebelumnya sudah lumayan menguasai dasar ilmu akuntansi, maka mengulang kuliah di jurusan yang sama tak begitu membuat saya bingung. Tinggal penyesuaian saja dengan segudang aturan-aturan yang awalnya masih asing, karena mata kuliahnya kebanyakan terkait dengan penyelenggaraan pemerintahan. Apalagi dosen-dosennya muda-muda dan cerdas-cerdas pula.

Hanya saja, sampai tamat tiga tahun kemudian, tetap saja tak membuat saya punya cita-cita lagi. Maksudnya cita-cita yang spesifik. Saya tetap tak ingin jadi akuntan, walau sudah dapat gelar sarjana terapan di bidang yang lebih khusus, akuntansi pemerintahan. Yang jelas, saya tidak punya cita-cita jadi PNS.

 

Jadi Wartawan

Buku-buku di atas meja kayu tua. (Foto: Fajri Hidayat)

Luntang-lantung setelah tamat, dengan membawa-bawa gelar Sarjana Sains Terapan (S.S.T) di bidang Akuntansi Pemerintahan, saya mendapat pekerjaan sebagai wartawan di sebuah koran mingguan. Saya teringat cita-cita saya menjadi penulis. 

Apalagi, dalam pengembaraan (bisa juga disebut pertapaan) saya setelah berhenti kuliah di periode pertama dulu, saya sempat ikut lomba puisi di kota tempat tinggal saya, dan jadi juara pertama. Cerpen saya pun pernah juga dimuat di koran harian besar.

Makanya saya senang sekali diterima menjadi wartawan, ya itu tadi, sebab profesi ini mengembalikan saya kepada kenangan cita-cita saya waktu SMA. Tentu saja banyaklah kemudian tulisan-tulisan saya dimuat di koran itu.

Banyak pula di sana saya belajar tentang cara kerja media massa, baik di redaksi maupun di bisnisnya. Saya juga sempat berguru kepada teman saya, seorang editor foto, bagaimana menggunakan kamera DSLR dengan benar dan mengoperasikan berbagai aplikasi untuk mengedit foto serta mengatur layout koran atau majalah.

Oleh karena pemilik koran mingguan itu adalah seorang kontraktor dan pengurus sebuah organisasi pengusaha konstruksi (belakangan Bapak itu terpilih jadi wakil walikota), maka saya sedikit banyak belajar pula sekilas tentang pengelolaan proyek-proyek gedung pemerintah. Setidaknya, beberapa kali saya menjadi editor berita terkait proyek konstruksi.

Pada saat mengedit berita-berita tersebut, saya sesekali ingat juga bahwa saya pernah bercita-cita jadi arsitek. Meski tak tercapai jadi arsitek, setidaknya kala itu saya dekat dengan arsitek. Baik dengan orangnya maupun dengan pekerjaannya, begitu saya berpikir waktu itu. Tapi, tak sampai setahun saya bekerja di sana, koran itu tutup.

Selanjutnya, saya diajak adik saya bergabung dengan sebuah koran harian besar tempat dia sudah jadi wartawan senior di sana. Masa itulah hampir seluruh kemampuan menulis saya terasah dengan baik.

Sebab standar penulisannya lebih tinggi, membuat saya harus lebih giat membaca dan berlatih. Di samping itu, saya juga diharuskan lebih  banyak menggelar wawancara dengan banyak orang. Mulai dari pemulung sampai kepada pejabat pemerintah. Ini tentu saja untuk menjaga kevalidan data dalam artikel yang saya buat.

Puncaknya, sebuah artikel feature saya mendapat nominasi tulisan terbaik di grup koran tempat saya bekerja itu. Tulisan itu kemudian tergabung dalam sebuah buku. Yakinlah saya, bahwa cita-cita saya jadi penulis sudah pula tercapai. Setidaknya jadi penulis berita, puisi, dan cerpen. Kan itu tetap jadi penulis namanya.

Jadi PNS

Sedang seru-serunya jadi wartawan, suatu hari tiba-tiba saja calon istri saya menyodorkan sebuah kartu ujian  untuk ikut tes CPNS Kementerian Agama. Saya bahkan tak tahu kapan dia mendaftarkan saya secara online untuk tes itu.

Perempuan baik  yang sekarang jadi istri saya itu pula yang sepanjang masa kuliah saya di politeknik selalu memotivasi saya. Jatuh bangun saya, dia yang rajin dan sabar membangkitkan.

Di saat bersamaan dengan keputusan untuk ikut atau tidak tes CPNS itu, saya ingat pula bahwa ibu saya di kampung ingin sekali saya jadi pegawai negeri. Saya juga tak ingin mengecewakan ibu saya untuk ke sekian kalinya. Terlebih akibat dulu berhenti kuliah itu, yang telah membuat perasaan ibu saya terluka. Karena ingat ibu, maka saya lupa bahwa saya tidak pernah bercita-cita jadi PNS.

Saya lalu memutuskan untuk membahagiakan dua perempuan hebat yang paling berpengaruh dalam hidup saya itu. Lagi pula, kalau lulus, saya bisa mengabdi untuk membalas jasa pemerintah, yang telah membiayai kuliah saya di periode kedua. Saya ikut ujian CPNS itu. Dan, lulus.

Setelah jadi PNS, saya rancang lagi cita-cita saya yang baru. Tetap tak ada yang spesifik. Saya bertahan saja dengan cita-cita yang kurang spesifik sebelumnya, yaitu menjadi bermanfaat bagi orang lain. Saya ingin, setiap orang yang pernah dekat dengan saya, menjadi hebat. Itu saja!

Itu pulalah makanya, memasuki tahun keempat sebagai PNS, saya memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke S2 Akuntansi di universitas negeri tempat saya pernah kuliah dulu juga. Kali ini dengan biaya sendiri. Saya ingin menambah ilmu, sekurang-kurangnya menambah gelar akademis, agar saya lebih percaya diri untuk membuat orang lain jadi hebat. Itu sejatinya cita-cita saya sampai hari ini.

Menjalani pendidikan magister, ternyata tak serumit dan sekeras di diploma. Di universitas negeri yang ketat sekalipun. Apalagi materi dasar kuliahnya kebanyakan sudah pula saya kuasai di perkuliahan sebelumnya. Bahkan sebagian lagi materinya sudah saya praktekkan juga di kantor selama saya ditugaskan jadi bendahara, karena konsentrasi kuliah saya memang masih akuntansi pemerintahan sebagaimana sebelumnya.

Lihat saja, sambil terus sibuk di pekerjaan berat mengurus banyak proyek waktu itu, yang menuntut saya berada di kantor sampai larut malam, saya bisa tamat dalam waktu 1 tahun dan 11 bulan. Tapi ini tentu saja atas kuasa Tuhan yang menciptakan saya dan terus memberi petunjuk. Itu saya ingat terus.

Akhirnya Menyeleksi Para Arsitek

Pemilik dan manager lapangan proyek memonitor pengerjaan pembangunan gedung kampus III UIN Imam Bonjol Padang, 6 Agustus 2020. (Foto: Fajri Hidayat)

Setelah bergelar Magister Sains (M.Si) pun tak menggoyahkan cita-cita saya yang terakhir. Saya tetap tidak tergoda bercita-cita menjadi akuntan, pejabat tinggi atau apa pun terkait ilmu dan pekerjaan saya sebagai PNS. Saya ngotot, hanya ingin jadi orang yang bermanfaat. Yang bisa mengajarkan orang lain tentang ilmu yang saya kuasai, dan membuat mereka jadi hebat.

 Itu makanya saya tidak memilih-milih untuk ditempatkan di bagian mana saja di instansi pemerintah tempat saya bekerja. Saya terbiasa belajar, dan saya ingin menjadikan orang lain jadi pembelajar dan hebat juga. Semakin banyak tempat pindah, semakin besar kemungkinan saya memberi inspirasi kepada banyak orang.

Bahkan ketika diminta mengurus proyek-proyek pembangunan gedung yang tidak berkaitan langsung dengan latar belakang ilmu saya, saya tidak menolak. Saya bisa belajar.

Setidaknya, saat jadi wartawan, terutama di koran mingguan dulu, saya sudah berkenalan juga dengan proyek pemerintah. Pimpinan saya waktu itu sering bercerita tentang seluk-beluk atau hal-hal yang berkaitan dengan pembangunan gedung negara dan sebagainya.

Baru saya sadari sekali lagi, ketika mengurus proyek, saya kembali bernostalgia dengan cita-cita saya waktu SMP. Bedanya, kalau dulu saya bercita-cita jadi arsitek, sekarang saya bertugas menyeleksi arsitek-arsitek hebat yang akan dibayar jasanya untuk membangun gedung-gedung pemerintah.

Bahkan, acap kali saya terlibat dalam pembahasan rencana pembangunan gedung di tempat saya bekerja. Oleh karena itu, paling kurang, berdasarkan pengalaman tersebut, ditambah dengan ilmu yang saya dapat dari kegemaran saya membaca aturan-aturan terkait konstruksi bangunan pemerintah, saya merasa sudah jadi arsitek juga.

Akibat peristiwa-peristiwa yang saya alami dalam menjalani kehidupan sampai hari ini, amat banyak pelajaran yang saya ambil. Bahwa rencana atau cita-cita kita, sering kali tidak seperti apa yang kita impikan hasilnya. Kita yang berencana atau bermimpi, Tuhan yang menentukan. Apa yang kita cita-citakan itu bisa pula terwujud dalam bentuk yang persis sama atau berbeda. Bisa pula tidak tercapai sama sekali, tapi Tuhan menggantinya dengan yang lain. Dan saya yakin itulah yang terbaik bagi kita.

Jadi, sekali lagi, tugas kita adalah menyusun rencana (cita-cita) untuk masa depan, lalu berupaya saja untuk menggapainya. Ataupun tidak berupaya untuk mencapainya. Karena kadang-kadang rencana itu ada pula yang harus kita revisi dalam perjalanannya. Tapi yakinlah, Tuhan selalu memberi petunjuk, bila kita selalu ingat pada-Nya.

Demikianlah saya kisahkan cerita saya tentang cita-cita saya ini. Mimpi saya. Tak lain dan tak bukan adalah untuk mengabarkan kembali bahwa tak ada yang sia-sia diciptakan Tuhan di dunia. Termasuk pikiran, pengalaman, dan cita-cita.

Maka, bagi  Anda yang saat ini masih sekolah atau pun bekerja, bercita-citalah (bermimpilah), apa pun itu. Saya adalah bukti hidup, bahwa Tuhan tidak tidur. Dia mendengar segala doa, baik yang terucap maupun yang hanya terlintas di hati kita. Dan cita-cita, adalah satu dari berjuta jenis doa.

 

Berlangganan via Email