Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masker Untukmu

fajriologi.com - Foto masker untukmu, menceritakan donasi masker saat pandemi covid-19
Masker untukmu. (Fajri Hidayat/FAJRIOLOGY)

 

Di awal masa pandemi COVID-19, donasi masker medis menjadi program penting di berbagai negara.

Masker medis (surgical mask) mendadak langka setelah virus corona dinyatakan organisasi kesehatan dunia (WHO) sebagai pandemi pada Februari 2020 lalu. Media di dunia sibuk menyuarakan 'hilangnya' alat pelindung diri tersebut. Banyak yang mengutuk perbuatan para spekulan yang disinyalir bermain dalam kondisi memprihatinkan itu.

Berita baiknya, semua bangsa tiba-tiba bersatu guna menghambat serbuan virus sekaligus perbuatan orang-orang yang mencari keuntungan besar dalam penjualan alat kesehatan, terutama masker itu. Banyak negara dan perusahaan besar yang berinisiatif memproduksi masker secara massal dan menyumbangkkannya kepada negara-negara lain yang membutuhkan, di samping sumbangan-sumbangan organisasi-organisasi dan antar individu.

Menyumbangkan masker, tentu tidak hanya bermaksud untuk memberi secara cuma-cuma kepada orang lain. Ini lebih kepada memutus mata rantai penyebaran. Bila banyak orang-orang yang tidak punya masker berkeliaran, mungkin karena memang masker langka waktu, maka virus akan terus merajalela. Maka membagikan masker adalah solusi darurat yang harus ditempuh. Artinya, pemberian itu bersifat simbiosis mutualisme, atau saling menguntungkan. Ini demi kepentingan bersama. Kepentingan kesehatan masyarakat dunia.

Cerita dalam foto

Inilah yang diceritakan dalam foto di atas. Pandemi telah menyebabkan masyarakat memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Ini adalah pelajaran penting dari wabah yang mendunia itu. Saat kita membantu orang lain, pada dasarnya kita juga menghindarkan diri kita sendiri dari kesusahan. Kita juga sekaligus menjadi orang yang telah berpartisipasi dalam menanggulangi sebuah masalah di masyarakat.

Foto yang laris di situs microstock

Bukti bahwa donasi masker menjadi trending kala itu adalah: foto saya tersebut banyak dibeli orang dari berbagai penjuru dunia, terutama lewat situs penjual foto Shutterstock. Tentu saja foto itu akan dimanfaatkan sebagai gambar pada sebuah iklan layanan masyarakat yang berhubungan dengan pandemi COVID-19 ataupun sebagai ilustrasi pada sebuah tulisan, baik bagi blogger dan media-media penghasil berita, maupun para perancang iklan.

Bahkan, hingga sekarang foto itu masih terus diunduh, meskipun intensitasnya tak sesering waktu awal pandemi corona merebak dulu. Dari foto inilah saya mulai banyak belajar tentang fotografi microstock. Ada pasar yang bisa kita masuki di dunia fotografi, yaitu menjual karya unik ke dunia. Ada kebutuhan tentang foto yang 'bercerita' untuk menjadi ilustrasi bagi para penulis dan marketer periklanan. Foto yang bisa memperkuat isi tulisan mereka, atau naskah iklan yang sedang mereka rancang.

Foto yang bagus dan laris di pasaran miscrostock adalah foto yang memberikan nilai tambah bagi penggunanya. Foto yang memiliki kesan kuat dan segera dipahami orang maknanya, atau apa yang diceritakan oleh foto itu sendiri, bahkan tanpa adanya keterangan foto yang lengkap sekalipun.

Coba anda perhatikan lagi foto di atas. Bukankah segera tersirat di pikiran anda bahwa foto itu menceritakan orang yang sedang memberikan masker, atau setidaknya orang yang memperagakan masker?

Informasi Foto:

Shutter speed:1/25 detik

Aperture (F-stop): f/5.6

ISO: 200

Focal Length: 50 mm

White Balance: Auto

 


Berlangganan via Email