Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Mengayuh Senja

fajriology.com - Foto mengayuh senja. Kembali bersepeda merupakan langkah bagus untuk menjaga kelestarian lingkungan.
Mengayuh Senja (Fajri Hidayat/FAJRIOLOGY)
 

Di masa pandemi COVID-19, aktivitas bersepeda yang sebelumnya seperti ditinggalkan, kembali populer di masyarakat. Ini adalah kegiatan kembali ke alam yang bagus dikampanyekan.


Mungkin disebabkan semakin tingginya kesadaran orang terhadap kesehatan, membuat kegiatan bersepeda menjadi pilihan akhir-akhir ini. Bahkan ada yang mengkampanyekan gerakan bersepeda ke kantor. Ada pula yang mempopulerkan istilah gowes, yang kira-kira maksudnya bersepeda berkelompok menuju daerah tertentu, seperti pantai, pegunungan, atau sekedar menelusuri jalan raya.

Trend bersepeda juga bisa menggambarkan kepedulian masyarakat kepada lingkungan. Telah diketahui bersama, bahwa pencemaran udara yang disebabkan bahan bakar kendaraan bermotor, makin hari makin mencemaskan. Isu terus berkurangnya sumberdaya alam berupa bahan bakar fosil (minyak bumi dan batu bara) pun menjadikan bersepeda sangat bagus jadi alternatif alat transportasi.

Secara ekonomi, tentu saja penjualan sepeda melonjak drastis. Beberapa waktu lalu, saat saya mengunjungi sebuah toko sepeda di kawasan Lubuk Buaya, Padang, Sumatera Barat, saya mendapati toko itu dibanjiri pembeli. Selain itu, saya perhatikan di hampir tiap ruas jalan besar di kota ini, toko-toko sepeda baru menjamur. Beruntunglah para penjual sepeda. Ini namanya rezeki datang dari langit. Berkah pandemi.

Bukan itu saja, sebuah bengkel sepeda di perempatan Jalan Alai Parak Kopi, pun bertambah ramai. Banyak orang tua yang mendadak care memperbaiki sepeda anaknya, yang biasanya lebih sering mejeng di gudang. Salah satunya saya, ha ha ha. Anak saya memaksa saya memperbaiki ban sepedanya yang telah lama bocor, karena lama tak dipakai. Dia jadi keranjingan main sepeda, karena teman-temannya di komplek tiap sore melintas ramai-ramai pakai sepeda.

Cerita dalam foto

Foto di atas saya ambil di perbukitan Sungai Bangek, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang. Tepatnya, di kawasan kampus III UIN Imam Bonjol Padang, yang sedang dalam tahap pengembangan. Waktu itu saya sedang ada tugas meninjau lokasi proyek pembangunan gedung. Bersama salah seorang rekan kerja, saya membuat dokumentasi foto progres pekerjaan.

Ketika senja menjelang, dan pekerjaan saya sudah selesai, saya melihat ada seorang laki-laki menggunakan sepeda, lengkap dengan pakaian olahraga bersepeda (pakai helm khusus). Dia mendaki bukit terjal di samping lokasi proyek itu, bersusah payah mengayuh sepeda sport-nya yang sepertinya berharga mahal.

Saya perhatikan, begitu menikmatinya dia melaksanakan aktivitas itu, padahal hari sudah hampir gelap. Saya jadi ingat pesan nenek saya dulu, tidak boleh main-main lagi di waktu maghrib, banyak setan. Ada juga yang mengatakan bahwa bersepeda malam-malam bisa mengabibatkan paru-paru basah. Tapi, menurut situs halodoc, itu hanya mitos. Jadi, bagi anda yang mau bersepeda malam hari, silahkan saja, asalkan teratur dan tidak dipaksakan.

Tapi sebetulnya, dalam foto di atas, saya tidak bermaksud bercerita tentang kesehatan. Yang ingin saya perlihatkan adalah perpaduan antara manusia dan alam di sebuah lokasi natural. Siluet orang mengayuh sepeda di senja hari dengan latar belakang cahaya merah muda dan oranye itu mengesankan kedamaian. Kedamaian kembali ke alam, sebagaimana dipesankan dalam uraian trend bersepeda di atas. Dengan kata lain, kembali ke alam, dapat diartikan sebagai usaha menjaga kelestariannya. Dan mengkampanyekan kembali bersepeda adalah salah satu bentuk upaya untuk itu.

Informasi foto:

Shutter speed: 1/640
Aperture : f/5.6
ISO : 200
Flash: Tidak dihidupkan
Focal lenght: 45mm

Difoto tanggal 24 Februari 2020
© 2020 Fajri Hidayat. All rights reserved.





Berlangganan via Email