Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjahit Rumah Impian

Menjahit Rumah Impian
Mesin jahit tua ayah | Foto: Fajri Hidayat / FAJRIOLOGY

FAJRIOLOGY - Cerita Kehidupan

Setiap pulang ke rumah kami di kampung, saya suka duduk berlama-lama di samping sebuah mesih jahit tua di sudut ruang tengah. Benda itu pernah menjahit kenangan tentang panjangnya waktu orang tua kami membangun sebuah rumah sederhana, dua puluh lima tahun silam.

Seingat saya, kami pindah ke rumah itu saat saya bersekolah di kelas tiga SMA. Padahal, pondasinya sudah mulai digali sejak saya masih kelas tiga SD. Ya, delapan tahun orang tua saya membangunnya. Itupun belum sempurna pada saat pertama kali kami tinggali. Plafonnya belum ada, lantainya masih berupa semen kasar, dan di bagian dapur masih bangunan semi permanen dari kayu bekas.

Mungkin itu wajar saja, karena kami bukan berasal dari keluarga berada. Sehari-hari, ayah saya bekerja sebagai tukang jahit di pasar kecamatan. Sementara ibu saya, di samping membantu ayah di kedai jahitan, pada musim-musim tertentu juga menjadi petani kacang tanah, jagung, mentimun atau ubi jalar di sawah yang berada di dekat rumah. Kalau dihitung penghasilan, memakai istilah yang digunakan pemerintah, maka keluarga kami tergolong Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR).

Setelah saya berkeluarga, barulah benar-benar saya sadari betapa luar biasanya apa yang sudah dilakukan orang tua saya. Saya tidak habis pikir, bagaimana cara ibu saya menyisihkan uang untuk membangun rumah itu. Sementara kami, waktu itu masih empat bersaudara, tidak kekurangan makan dan tetap bersekolah, bahkan sampai perguruan tinggi.

“Rumah ini tidak bisa langsung jadi, karena bagi kami, pendidikan dan kesehatan kalian yang utama. Rumah bisa dibangun kapan saja, tapi sekolah kalian waktunya terbatas. Dan kalau kalian sakit, biaya obat mahah,” kata ibu saya beberapa waktu lalu, saat  pulang ke rumah yang berlokasi di Jorong Gasang, Kenagarian Maninjau, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Daerah itu berjarak 140 kilometer dari Kota Padang, tempat saya menetap sejak tamat SMA sampai sekarang.

Semua berawal dari mimpi

rumah tua kami
Rumah tua kami. (Foto: Fajri Hidayat)
 

Jauh sebelumnya, kami tinggal di sebuah rumah panggung kayu tua berlantai dua, sekitar seratus meter dari lokasi rumah yang sekarang. Rumah itu merupakan warisan turun-temurun keluarga dari pihak nenek saya. Sebagai satu-satunya keturunan terdekat yang tinggal di kampung, maka ibu saya yang dipercaya menjaganya.

Saat ini, rumah itu sudah dalam kondisi rusak parah. Dindingnya sudah banyak yang copot, apalagi atapnya. Ini sudah dibayangkan ibu saya sejak dulu, bahwa rumah itu memang tidak akan lama lagi bertahan. Bila direnovasi pun kala itu tidak akan banyak pengaruhnya. Kalau dibangun ulang atau dirombak total, tentu kami tidak punya tempat tinggal sementara. Lagipula, keuangan keluarga tidak akan sanggup membiayainya.

“Kalau waktu dulu itu kita hanya mengandalkan upah jahit yang didapat ayah, maka tidak akan cukup membangun rumah.  Untuk makan sehari-hari dan biaya sekolah kalian saja itu sudah habis,” kata ibu.

  Ibu tetap memelihara mimpinya membangun sebuah rumah baru yang lebih dari sekedar layak huni, walaupun kondisi keuangan keluarga pas-pasan. Untuk itulah, berbekal pengalaman berdagang bersama familinya waktu masih  merantau di Bandar Jaya, Lampung, ibu menyusun rencana baru.

Diawali dengan mencari informasi tentang harga kain dan perlengkapan jahit lainnya di kota terdekat. Sebelumnya, perlengkapan jahit dibeli di toko kain di pasar kecamatan.

Dari hasil penelusuran di kota, ibu terkejut, betapa mahalnya modal yang telah dihabiskan selama ini. Harga yang didapat ibu tak sampai seperempat dari yang selama ini didapat di kampung, jika dibeli dengan jumlah banyak. Ini tidak sebanding dengan upah jahit yang diperoleh ayah. Kami ternyata lebih banyak mencarikan uang untuk pedagang kain, dibanding dibawa pulang.

Ibu kemudian merancang ulang pola usaha. Tidak hanya mengandalkan upah jahit, tapi juga pendapatan dari selisih harga kain. Masalah yang timbul kemudian adalah dari mana modalnya? Kalau membeli kain di kota dengan jumlah sedikit, akan sama saja dengan harga di kampung, karena ditambah dengan ongkos bus pergi-pulang. Kalau dalam jumlah besar, tentu membutuhkan modal usaha yang besar juga. Sementara itu penghasilan yang didapat sebelumnya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari  dan biaya sekolah kami.

Berkenalan dengan bank

Dalam masa pencarian modal itu, suatu hari ibu diperkenalkan dengan skema pinjaman di bank. Ibu tertarik. Meski dalam  hitung-hitungan ibu, bunga yang diterapkan oleh bank  waktu itu cukup besar, namun jika pola usaha ‘baru’ yang direncanakan berhasil, akan bisa menutupi angsurannya.

Namun, masalah selanjutnya pun timbul, apa yang mau dijadikan agunan? Rumah tua yang kami tinggali waktu itu bukan milik ibu, tapi milik bersama, tidak mungkin diagunkan. Demikian juga beberapa petak sawah di sekitar rumah.

Akhirnya, berdasarkan saran dari petugas bank, ibu setuju menjaminkan sepetak tanah kebun yang dibelinya sendiri saat masih remaja, bertahun-tahun sebelumnya, dari hasil upah memanen cengkeh. Kata ibu, waktu itu harga cengkeh sangatlah mahal, tidak seperti sekarang.

Awalnya, ibu ragu, karena khawatir tanah itu akan jadi milik bank, kalau angsuran tidak terbayar. Tapi, karena kekuatan mimpi memiliki rumah sendiri, ibu membulatkan tekad.

Pada pinjaman pertama, ibu langsung menggunakan seluruhnya untuk modal usaha. Ibu membeli seluruh perlengkapan jahit, dari mulai kain, benang, jarum dan sebagainya dalam jumlah besar. Maka mulailah usaha jahitan ayah berubah. Usaha ini terbukti lebih menguntungkan dibanding sebelumnya. Ibu berulang kali menyambung pinjaman di bank itu. Lunas satu pinjaman, dilanjutkan dengan pinjaman selanjutnya. Begitu terus menerus.

Yang menarik bagi saya adalah cara ibu membayar angsuran bank. Kebanyakan waktu pelunasan pinjaman itu lebih cepat dibanding seharusnya. Misalnya, pada perjanjian awal, masa pinjamannya dua tahun, tapi ibu melunasinya dalam waktu satu setengah tahun . Ini terjadi karena ibu kerap membayar angsuran secara dobel. Ini menandakan juga bahwa hasil usaha jahitan ayah memang mengalami peningkatan.

Pada saat mengambil pinjaman yang kedualah ibu mulai menyisihkan uang untuk membangun rumah. Artinya, tidak seperti pinjaman pertama, kali ini ibu menyisihkan sebagian untuk keperluan pembangunan. Pertama kali, pekerjaan pondasinya saja dulu. Uang dari pinjaman itu disisihkan untuk membeli bahan bangunan dan upah tukang. Maka jadilah uang dari pinjaman kedua itu pondasi rumah. Pondasi itu dibiarkan saja dulu sampai periode pinjaman selanjutnya, dua atau tiga tahun kemudian.

Selanjutnya, jika ada sedikit kelebihan rezeki dari usaha, ibu mengangsur membeli bahan bangunan yang dibutuhkan. Dikumpulkan sedikit demi sedikit, di samping juga dari pinjaman bank periode-periode selanjutnya. Begitu seterusnya, sampai delapan tahun kemudian barulah rumah itu bisa berdiri utuh dan bisa ditinggali. Sebuah usaha yang panjang dan berat.

Program Sejuta Rumah

            Belajar dari perjalanan panjang ibu saya dalam menjahit mimpi membangun rumah pertama, saya sangat paham betapa susahnya masyarakat berpenghasilan rendah seperti kami mewujudkannya, walaupun yang dibangun hanya sebuah rumah sederhana. Upaya itu harus dilakukan secara simultan bertahun-tahun dengan kerja ekstra keras, bahkan dengan pengelolaan keuangan keluarga yang ketat.

Program sejuta rumah
Seorang pekerja mendorong gerobak berisi satu zak semen di area pembangunan perumahan bersubsidi type 36 'Griya Tunggal Panaluan Anak Air' di Kelurahan Batipuh Panjang , Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, Provinsi Sumatera Barat, Sabtu (8/8/2020). Subsidi rumah merupakan bagian dari Program Sejuta Rumah Ditjen Perumahan Kementerian PUPR. (Foto: Fajri Hidayat)
 

  Oleh karena itu, saya sangat mengapresiasi hasil kerja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Perumahan yang sukses membangun 36 unit rumah khusus untuk para nelayan di Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Padang Pariaman, Provinsi Sumatera Barat, pada 15 Juni lalu. Pembangunan yang menggunakan dana sejumlah Rp 4,6 miliar itu pun dilengkapi dengan fasilitas pendukung seperti jalan lingkungan, drainase, listrik dan air bersih (perumahan.pu.go.id, 25/6/2020).

Selain itu, Ditjen Perumahan juga menyiapkan dana untuk program yang diberi nama Bantuan Stimultan Perumahan Swadaya (BSPS) yang digunakan untuk memperbaiki 3.772 unit rumah tak layak huni di 10 kabupaten/kota di Sumatera Barat. Masing-masing akan mendapatkan bantuan sebesar Rp 17,5 juta (perumahan.pu.go.id, 5/8/2020). Tak hanya di Sumbar, bantuan serupa, yang dikenal dengan nama program bedah rumah, itu juga akan dilakukan di daerah-daerah lain di Indonesia. Salah satunya bantuan untuk memperbaiki 146 unit rumah di Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Selatan yang diluncurkan 6 Agustus lalu (www.pu.go.id, 7/8/2020).

Dengan adanya program-program di atas, tentu kesulitan yang pernah dialami ibu saya bertahun lalu tidak perlu dialami pula oleh MBR di masa sekarang. Apalagi di masa pandemi Covid-19 saat ini, masyarakat diharapkan akan bisa lebih fokus pada kesehatan keluarga dan pendidikan anak, tanpa dibebani juga dengan usaha mengumpulkan penghasilan untuk membuat rumah yang biayanya semakin hari semakin mahal.

Program-program yang dilakanakan oleh Ditjen Perumahan di atas merupakan bagian dari kebijakan unggulan pemerintah bertajuk Program Sejuta Rumah (PSR). Dalam buku Lima Tahun Program Sejuta Rumah yang diterbitkan Ditjen Perumahan PUPR tahun 2019 (dapat diunduh gratis di situs perumahan.pu.go.id), dinyatakan bahwa program itu digagas oleh Presiden Joko Widodo sejak 25 April 2015.

Dalam PSR tahap pertama (2015-2019), pemerintah telah sukses membangun 4.800.170 unit rumah, dengan rincian 70% (3.360.119 unit) untuk MBR, dan sisanya yaitu 1.440.051 unit untuk non MBR. Berdasarkan data terakhir situs Ditjen Perumahan, memasuki tahap dua (2020-2024), hingga 20 Mei, telah dibangun lagi 215.662 unit dari 900.000 unit yang ditargetkan tahun ini.

Kita tentu berharap, program-program yang memihak masyarakat kecil seperti itu akan terus dilanjutkan dan ditingkatkan oleh pemerintah. Di samping mampu menyediakan perumahan yang layak, pengerjaan pembangunan rumah secara besar-besaran juga dinilai memiliki multipier effect (efek berganda) kepada sektor usaha lain. Setidaknya pada sektor jasa konstruksi, mulai dari penyedia bahan bangunan, alat berat, sampai kepada para pekerja. Ini tentu termasuk usaha-usaha masyarakat kecil yang berlokasi di daerah pembangunan, seperti rumah makan, kedai barang harian, pangkas rambut, bahkan jasa cuci pakaian.

Efek berganda yang ditimbulkan itu pun akan memicu peningkatan perputaran uang di masyarakat. Dengan begitu usaha-usaha masyarakat akan terus menggeliat. Para MBR yang ingin membangun rumah sendiri, seperti yang dilakukan ibu saya dulu itu, pun akan sangat terbantu. Akhirnya, menjahit atau mewujudkan mimpi rumah pertama bagi mereka, tidak hanya sekedar menjadi bunga tidur.

----------

Tulisan ini pertama kali diterbitkan di media Kumparan pada tanggal 7 Agustus 2020.

Foto Utama: Mesin jahit tua ayah. (Foto: Fajri Hidayat)

 

 

 

 

 

 

Berlangganan via Email