Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Meraup Untung di Tengah Bencana

Banyak orang mendapat untung berlipat dalam penjualan masker medis saat pandemi COVID-19
Meraup untung berlipat di tengah bencana. (Fajri Hidayat/FAJRIOLOGY)
 

Banyak orang mendapat untung berlipat dalam penjualan masker medis, di awal-awal pandemi COVID-19.

 

Sekitar pertengahan Maret 2020, istri saya minta dibelikan satu kotak masker medis. Waktu itu wabah atau pandemi virus corona mulai menjadi perbincangan di mana-mana, walaupun keadaannya belum begitu mencemaskan seperti sekarang.

Di sejumlah pemberitaan dan iklan layanan masyarakat, pemerintah mulai mengkampanyekan protokol kesehatan guna memutus mata rantai penyebaran virus yang dikabarkan sangat cepat itu, yakni: mencuci tangan pakai sabun, memakai masker, dan social distancing (pembatasan sosial, yang kemudian hari lebih dikenal dengan istilah 'jaga jarak'). Mematuhi himbauan ini, istri saya menginginkan masker medis, di samping dia juga segera menyediakan hand sanitizer botol dan menambah persediaan sabun khusus cuci tangan di rumah.

Menurut istri saya, dua atau tiga bulan sebelumnya dia membeli masker medis itu di apotek seharga 38.000 rupiah per kotak, isi 50. Saat itu untuk dia pakai saat membawa sepeda motor ke kantor. Saya pikir, harganya belum akan berubah jauh.

Di toko obat terdekat yang saya datangi, ternyata masker medis kosong. Kata penjaga tokonya, kalau yang eceran ada, harganya 4.000 rupiah/lembar. Saya tidak tertarik, dan mencari toko obat lain. Saya belum berpikir yang aneh-aneh soal masker ini, dan tidak sempat menghitung bahwa jika harga ecerannya 4.000 rupiah/lembar, maka kalau sekotak isinya 50, maka harganya tentu 200.000 rupiah (bandingkan, tiga bulan sebelumnya harganya cuma 38.000). Waktu itu saya pikir, biasa saja kalau suatu toko kehabisan stok. Mungkin, pasokannya sedang kurang. Atau memang sedang laris.

Tak jauh dari toko obat pertama, ada sebuah apotek besar. Saya yakin di sana pasti ada. Tapi, ternyata penjaga tokonya juga mengatakan stok mereka kosong. Lagi-lagi yang ada hanya eceran, dengan harga lebih murah dibanding sebelumnya, yaitu 2.500/lembar.

Begitulah, setelah empat atau lima apotek selanjutnya yang saya kunjungi, mengatakan hal yang sama, barulah pikiran saya mengarah kepada pandemi COVID-19. Saya mulai merasakan bahwa ada yang janggal dengan pasaran masker medis kala itu. Waktu itu, pemerintah belum merekomendasikan masker kain, jadi kalau bicara masker, berarti harus masker medis.

Puncaknya, di sebuah apotek, yang ternyata tempat istri saya sebelumnya pernah membeli, memang tersedia stoknya, tapi harganya sudah mencapai 140.000 per kotak. Saat itu saya telpon istri saya, untuk memastikan apakah jadi dibeli atau tidak. Istri saya  terperanjat mendengarnya, dan memutuskan untuk membatalkannya.

Cerita dalam foto

Nah, cerita ini yang digambarkan di dalam foto di atas. Bahwa pada awal pandemi COVID-19 mulai merebak, masker dan alat kesehatan sejenisnya yang berkaitan dengan pencegahan penyebaran virus ini, menghilang di pasaran. Kalau pun ada di beberapa penjual, harganya sudah melambung jauh, seperti masker medis tadi yang harganya sudah naik mencapai 400%. Ternyata para spekulan dan pedagang tertentu telah memanfaatkan hal ini untuk meraup untung.

Walaupun saya pernah belajar ilmu ekonomi, bahwa semakin tinggi permintaan (demand), dengan pasokan (supply) terbatas, tentu harga akan naik. Tapi meraup untung berlipat di tengah bencana, di tengah kesusahan orang, tentu tidak elok.

Informasi foto:

Shutter speed: 2.5 detik

Aperture: f/7.1

ISO: 200

Flash: Tidak dihidupkan

Focal lenghth: 50 mm

 

Difoto tanggal 31 Maret 2020


©2020 Fajri Hidayat All rights reserved.



 




 




 


Berlangganan via Email