Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Tampah Kosong

 

Fajriology.com - Fotografi, Tampah kosong. Saya sudah jarang melihat orang menggunakan tampah untuk membersihkan beras. Kehidupan damai di desaKehidupan damai di desa.
Tampah kosong. (Fajri Hidayat/FAJRIOLOGY)

Saya sudah jarang melihat orang menggunakan tampah untuk membersihkan beras.

Di kampung saya, di Maninjau, tampah atau nampan tradisional itu dikenal dengan sebutan 'tampian', meski bentuknya tak persis bulat. Gunanya untuk memisahkan sisa-sisa gabah dari beras. Di beberapa daerah di Jawa, saya pernah melihat wadah dari anyaman bambu itu juga dipakai untuk alas tumpeng, atau wadah jajanan di pasar.

Dulu, ketika masih tinggal di kampung, tiap pagi saya melihat ibu atau nenek saya menggunakan tampah untuk membersihkan beras itu. Kami mengenalnya dengan sebutan menampi beras. Beras yang ditaruh di dalam tampah itu dilempar-lembarkan ke atas, agar sisa-sisa gabah atau padi di beras tersisih, dan benda-benda halus (bekas kulit padi juga) yang mengotori beras bisa terbang dan terbuang. Ini dilakukan setiap beras akan ditanak, agar nasi yang dihasilkan bersih.

Mungkin karena lama tinggal di kota, maka kegiatan menampi beras itu tidak dapat lagi saya jumpai. Orang-orang di kota sepertinya tidak memerlukan proses  pembersihan beras tersebut. Sebab, setelah beras dicampur dengan air, kotoran bekas gabahnya pun akan mengambang, dan mudah juga untuk dibuang. Lagipula, orang kota tidak punya waktu lebih, karena hidup serba tergesa, maka ketatnya pembagian waktu lebih terasa.

Cerita dalam Foto

Situasi inilah yang digambarkan di dalam foto di atas: yaitu sebuah tampah kosong di atas papan kayu tua. Sebuah tradisi yang tak tumbuh di kota di jaman modern yang serba instant. Dia adalah sebuah kebiasaan yang tertinggal jauh di desa yang permai.

Saya merasa rindu menyaksikan aktivitas menampi beras tersebut. Menurut saya itu adalah kegiatan tradisional yang menyenangkan, dan membuat suasana hati damai. Ketika ayam jantan masih terdengar kokoknya serta betinanya mulai ribut keluar kandang, lalu burung-burung terdengar riuh di pepohonan di sekitar rumah, dan suara menampi beras itu melengkapi syahdunya suasana desa.

Sekarang suasana damai itu telah diganti dengan bertebarannya informasi di ponsel. Orang-orang lebih senang bila pagi-pagi bisa menyaksikan info baru dari layar ponsel, dibanding menikmati kicauan burung di alam ataupun riuhnya suara ayam mencari makan. Apalagi suara orang menampi beras dengan tampah. Sesuatu yang menurut orang sekarang mungkin tidak penting. Tapi bagi saya, itu tetap sebuah kerinduan, karena saya belasan tahun menikmati dan merasukkannya ke dalam jiwa saya. Jiwa yang damai.

Informasi foto:

Shutter Speed: 1 detik

Aperture: f/7.1

ISO: 200

Focal Lenght: 50 mm

Difoto tanggal 14 Maret 2020

© 2020 Fajri Hidayat. All right reserved

Berlangganan via Email